2.1
Konsepsi Psikologi tentang Manusia
Banyak teori komunikasi di
latarbelakangi konsepsi psikologi tentang manusia, Teori-teori persuasi sudah
lama menggunakan konsepsi psikoanalisis yang menggambarkan manusia sebagai
makhluk yang digerakan oleh keinginan-keinginan terpendam (Homo Volens). Teori “Jarum Hipodermik” (yang menyatakan media
massa sangat berpengaruh dilandasi konsepsi behaviorisme yang memandang manusia
sebagai makhluk yang digerakan semaunya oleh lingkungan (Homo Mechanicus). Teori pengolahan informasi jelas dibentuk oleh
konsepsi psikologi kognitif yang melihat manusia sebagai mahkluk yang aktif
mengorganisasikan dan mengolah stimuli yang diterimanya (Homo Sapiens). Teori-teori komunikasi interpersonal banyak
dipengaruhi konsepsi psikologi humanistis yang menggambarkan manusia sebagai
pelaku aktif dalam merumuskan strategi transaksional dengan lingkungannya (Homo Ludens)
.
.
Walaupun psikologi telah banyak
melahirkan teori-teori tentang manusia, tetapi empat pendekatan yang
dicontohkan di atas adalah yang paling dominan : psikoanalisis, behaviorisme, psikologi kognitif, dan psikologi
humanistis. Setiap pendekatan ini memandang manusia dengan cara berlainan.
Sekali waktu ia menjadi mahkluk yang secara membuta menuruti kemauannya, pada
waktu yang lain ia menjadi mahkluk yang berpikir logis. Pada satu saat ia
menyerah bulat-bulat pada proses pelaziman (conditioning) yang diterimanya dari
lingkungan, pada saat lain ia berusaha mewarnai lingkungannya dengan
nilai-nilai kemanusiaan yang dimilikinya.
Konsepsi
Manusia dalam Psikoanalisis
Sigmund
Freud, pendiri psikoanalisis adalah orang yang pertama berusaha merumuskan
psikologi manusia. Ia memfokuskan perhatiannya kepada totalitas kepribadian
manusia, bukan pada bagian-bagiannya yang terpisah (Asrch, 1959:17).
Menurut Freud, perilaku manusia merupakan
hasil interaksi tiga sub-sistem dalam kepribadian manusia Id, Ego, Superego. Id adalah bagian kepribadian yang menyimpan
dorongan-dorongan biologis manusia – pusat instink (hawa nafsu – dalam kamus
agama). Ada dua instink dominan : (1) Libido – instink reproduktif yang
menyediakan energi dasar untuk kegiatan-kegiatan manusia yang konstruktif; (2) Thanatos – instink destruktif dan
agresif.
2.2
Faktor-faktor Personal yang Mempengaruhi Perilaku Manusia
Dewasa
ini ada dua macam psikologi social. Yang pertama adalah Psikologi sosial
(dengan huruf P besar) dan yang kedua psikologi Sosial (dengan huruf S besar).
Ini menunjukkan dua pendekatan dalam psikologi sosial: ada yang menekankan
faktor-faktor psikologis dan ada yang menekankan factor-faktor social; atau
dengan istilah lain: factor-faktor yang timbul dari dalam diri individu (factor
personal), dan faktor-faktor berpengaruh yang datang dari luar diri individu
(faktor environmental).
McDougall
menekankan pentingnya factor-faktor personal dalam menentukan interaksi social
dan masyarakat. Ross menegaskan utamanya factor situasional dan social dalam
membentuk perilaku individu. Menurut McDougall, factor-faktor personallah – ia
menjabarkannya dalam puluhan instink – yang menentukan perilaku manusia. Mengapa
manusia berperang? Karena ia memiliki instink berkelahi. Mengapa orang
berkelompok dan membentuk organisasi? Karena ia memiliki instink berkelompok
(gregarious propensity). Lalu, mengapa manusia sanggup membangun bangunan megah
bahkan peradapan? Karena ia memiliki instink membangun (constructive
propensity).
Populernya
Behaviorime memporak-pondakan dalil-dalil McDougall. Orang melihat factor
situasilah yang penting. Suara Ross menjadi nyaring, terutama di negeri Paman
Sam, kelahiran Behaviorisme. Ternyata, situasi atau lingkunganlah yang
menentukan perilaku kita.
Istilah
Edward E. Sampson (1976) – antara perspektif yang berpusat pada persona (person – centered perspective) dengan perspektif yang berpusat pada situasi
(situation-centered perspective). Seperti juga konsepsi tentang manusia,
yang benar tampaknya interaksi di antara keduanya.
Perspektif
yang berpusat pada persona mempertanyakan faktor-faktor internal apakah, baik
berupa sikap, instink, motif, kepribadian, sistem konigtif yang menjelaskan perilaku
manusia. Secara garis besar ada dua faktor; faktor biologis dan faktor
sosiopsikologis.
·
Faktor Biologis
Manusia
adalah mahkluk biologis yang tidak berbeda dengan hewan yang lain. Faktor
biologis terlibat dalam seluruh kegiatan manusia, bahkan berpadu dengan
factor-faktor sosiopsikologis. Bahwa warisan biologis manusia menentukan
perilakunya, dapat diawali sampai struktur DNA yang menyimpan seluruh memori
warisan biologis yang diterimanya dari kedua orang tuanya. Begitu besarnya
pengaruh warisan biologis ini sampai muncul aliran baru, yang memandang segala
kegiatan manusia, termasuk agama, kebudayaan, moral, berasal dari struktur
biologinya.
·
Faktor-faktor Sosiopsikologis
Karena
manusia makhluk social, dari proses social ia memperoleh beberapa karakteristik
yang mempengaruhi perilakunya. Kita dapat mengklasifikasikanya ke dalam tiga
komponen komponen afektif, komponen
kognitif, dan komponen konatif.
Komponen yang pertama, yang merupakan aspek emosional dari factor
sosiopsikologis, didahulukan karena erat kaitannya dengan pembicaraan
sebelumnya. Komponen kognitif adalah aspek intelektual, yang berkaitan dengan
apa yang diketahui manusia. Komponen konatif adalah aspek volisional, yang
berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak. Komponen afektif yang
terdiri dari motif sosiogenis, sikap dan emosi.
·
Motif Sosiogenis
Motif
sosiogenis, sering juga disebut motif sekunder sebagai lawan motif primer
(motif biologis), sebetulnya bukan motif “anak bawang”. Peranannya dalam
membentuk perilaku sosial bahkan sangat menentukan. Berbagai klasifikasi motif
sosiogenis:
W.I Thomas dan Florian
Znaniecki:
1. Keinginan
memperoleh pengalaman baru;
2. Keinginan
untuk mendapat respons;
3. Keinginan
akan pengakuan;
4. Keinginan
akan rasa aman.
David
McClelland:
1. Kebutuhan
berprestasi (need for achievement);
2. Kebutuhan
akan kasih sayang (need for affiliation);
3. Kebutuhan
berkuasa (need for power).
Abraham
Maslow:
1. Kebutuhan
akan rasa aman (safety needs);
2. Kebutuhan
akan keterikatan dan cinta (belongingness and love needs);
3. Kebutuhan
akan penghargaan (esteem needs);
4. Kebutuhan
untuk pemenuhan diri (self-actualization).
Melvin
H.Marx:
1. Kebutuhan
organismis:
v Motif
ingin tahu (curiosity),
v Motif
kompetensi (competence),
v Motif
prestasi (achievement);
2. Motif-morif
sosial:
v Motif
kasih saying (affiliation),
v Motif
kekuasaan (power),
v Motif
kebebasan (independence).
·
Sikap
Sikap
adalah konsep yang paling penting dalam psikologi social dan yang paling banyak
didefinisikan. Ada yang menganggap sikap hanyalah sejenis motif sosiogenis yang
diperoleh melalui proses belajar (Sherif dan Sherif, 1956:489). Ada pula yang
melihat sikap sebagai kesiapan saraf (neural settings) sebelum memberikan
respons (Allport, 1924). Dari berbagai definisi kita dapat menyimpulkan
beberapa hal. Pertama, sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi,
berpikir, dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi atau nilai. Sikap
bukan perilaku, tetapi merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan
cara-cara tertentu terhadap objek sikap.
Kedua,
sikap mempunyai daya pendorong atau motivasi. Sikap bukan sekadar rekaman masa
lalu, tetapi juga menentukan apakah orang harus pro atau kontra terhadap
sesuatu; menentukan apa yang disukai, diharapkan, dan diinginkan;
mengesampingkan apa yang tidak diinginkan, apa yang harus dihindari (Sherif dan
Sherif, 1956:489).
Ketiga,
sikap relatif lebih menetap. Berbagai studi menunjukkan bahwa sikap politik
kelompok cenderung dipertahankan dan jarang mengalami perubahan.
Keempat,
sikap mengandung aspek evaluative: artinya mengandung nilai menyenangkan atau
tidak menyenangkan, sehingga Bem memberikan definisi sederhana: “Attitudes are
likes and dislikes” (1970:14).
Kelima,
sikap timbul dari pengalaman; tidak dibawa sejak lahir, tetapi merupakan hasil
belajar. Karena itu sikap dapat diperteguh atau diubah.
·
Emosi
Emosi menunjukkan
kegoncangan organism yang disertai oleh gejala-gejala kesadaran, keperilakuan,
dan proses fisiologis. Emosi tidak selalu jelek. Emosi memberikan bumbu kepada
kehidupan; tanpa emosi hidup ini kering dan gersang. Paling tidak, ada empat
fungsi emosi (Coleman dan Hammen, 1974:462). Pertama, emosi adalah pembangkit
energy (energizer). Kedua, emosi
adalah pembawa informasi (messenger). Ketiga,
emosi bukan saja pembawa informasi dalam komunikasi intrapersonal, tetapi juga
pembawa pesan dalam komunikasi interpersonal. Keempat, emosi juga merupakan
sumber informasi tentang keberhasilan kita.
Emosi berbeda-beda dalam hal intensitas dan lamanya. Ada
emosi yang ringan, berat, dan desintegratif. Emosi ringan meningkatkan
perhatian kita kepada situasi yang dihadapi, disertai dengan perasaan tegang
sedikit. Emosi kuat disertai rangsangan fisiologis yang kuat. Dalam fisiologi,
gejala ini lazim disebut GAS – general
adaptation syndrome. Emosi yang desintegratif tentu saja terjadi dalam
intesitas emosi yang memuncak.
Dari segi lamanya, ada emosi yang berlangsung singkat dan
ada yang berlangsung lama. Mood adalah
emosi yang menetap selama berjam-jam atau beberapa hari. Mood mempengaruhi persepsi kita atau penafsiran kita pada stimuli
yang merangsang alat indera kita. Mood kita sebut sebagai suasana emosional.
Bila suasana emosional ini menjadi kronis dan menjadi bagian dari struktur
kepribadian, kita menyebutnya tempramen. Dalam
hubungan ini kita bisa menyatakan temperamennya penyedih, pemarah, atau ceria.
Disini cukuplah dikatakan bahwa dalam psikologi komunikasi,
emosi memegang peranan yang penting. Emosi terlibat dalam komunikasi sejak
proses penyandian, penyampaian pesan, bahkan sampai pada efek dalam diri
komunikan.
·
Kepercayaan
Kepercayaan adalah
komponen kognitif dari factor sosiopsikologis. Kepercayaan disini tidak ada
hubungannya dengan hal-hal yang gaib, tetapi hanyalah “kenyakinan bahwa sesuatu
itu benar atau salah atas dasar bukti, sugesti otoritas, pengalaman, atau
intuisi” (Hohler, et al., 1978:48). Jadi kepercayaan dapat bersifat rasional
atau irrasional. Kepercayaan memberikan perspektif pada manusia dalam
mempersepsi kenyataan, memberikan dasar bagi pengambilan keputusan dan
menentukan sikap terhadap objek sikap.
Menurut Solomon E. Asch (1959:565 – 567), kepercayaan
dibentuk oleh pengetahuan, kebutuhan dan kepentingan. Pengetahuan berhubungan
dengan jumlah informasi yang dimiliki seseorang.
·
Kebiasaan
Kebiasaan
adalah aspek perilaku manusia yang menetap, berlangsung secara otomatis tidak
direncanakan. Kebiasaan mungkin merupakan hasil pelaziman yang berlangsung pada
waktu yang lama atau sebagai reaksi khas yang diulangi seseorang berkali-kali.
Setiap orang mempunyai kebiasaan yang berlainan dalam menanggapi stimulus
tertentu. Kebiasaan inilah yang memberikan pola perilaku yang dapat diramalkan.
·
Kemauan.
Kemauanlah
yang membuat orang besar atau kecil. Kemauan erat kaitannya dengan tindakan,
bahkan ada yang mendefinisikan kemauan sebagai tindakan yang merupakan usaha
seseorang untuk mencapai tujuan. Menurut Richard Dewey dan W.J Humber, kemauan
merupakan: (1) hasil keinginan untuk mencapai tujuan tertentu yang begitu kuat
sehingga mendorong orang untuk mengorbankan nilai-nilai yang lain, yang tidak
sesuai dengan pencapaian tujuan; (2) berdasarkan pengetahuan tentang, cara-cara
yang diperlukan untuk mencapai tujuan, (3) dipengaruhi oleh kecerdasan dan
energy yang sebenarnya dengan satu cara yang tepat untuk mencapai tujuan.
2.3
Faktor-faktor Situasional yang Mempengaruhi Perilaku Manusia
Reaksi
agresif diungkapkan berlainan pada situasi yang berlainan sehingga Delgado
menyimpulkan bahwa respons otak sangat dipengaruhi oleh “Setting” atau suasana
yang melingkupi organism (Packard, 1978:45).
·
Faktor
Ekologis
Kaum determinisme lingkungan sering menyatakan bahwa
keadaan alam mempengaruhi gaya hidup dan perilaku.
·
Faktor
Rancangan dan Arsitektural
Osmond (1957) dan Sommer (1969) membedakan antara
desain bangunan yang mendorong orang untuk berinteraksi (sociopetal) dan
rancangan bangunan yang menyebabkan orang menghindari interaksi (sociofugal).
Pengaturan ruangan juga telah terbukti mempengaruhi pola-pola perilaku yang
terjadi di tempat itu.
·
Faktor
Temporal
Satu pesan komunikasi yang disampaikan pada pagi
hari akan memberikan makana yang lain bila disampaikan pada tengah malam. Jadi,
yang mempengaruhi manusia bukan saja di
mana mereka berada tetapi juga bilamana
mereka berada.
·
Suasana
Perilaku (Behavior Settings)
Dalam suatu kampanye di lapangan terbuka,
komunikator akan menyusun dan menyampaikan pesan dengan cara yang berbeda
daripada ketika ia berbicara di hadapan kelompok kecil di ruang rapat
partainya.
·
Teknologi
Revolusi teknologi sering disusul dengan revolusi
dalam perilaku social. Alvin Tofler melukiskan tiga gelombang peradaban manusia
yang terjadi sebagai akibat perubahan teknologi. Lingkungan teknologis (technosphere) yang meliputi system
energy, sistem produksi, dan sistem distribusi, membentuk serangkaian perilaku
social yang sesuai dengannya (sociosphere).
Bersamaan dengan itu tumbuhlah pola-pola penyebaran informasi (infosphere)
yang mempengaruhi suasana kejiwaan (psychosphere) setiap anggota masyarakat.
Dalam ilmu komunikasi, Marshall McLuhan (1964) menunjukkan bahwa bentuk teknologi komunikasi lebih
penting daripada isi media
komunikasi. Misalnya, kelahiran mesin cetak mengubah masyarakat tribal menjadi masyarakat yang berpikir
logis dan individualis; sedangkan kelahiran TV membawa manusia kembalu pada
kehidupan neo-tribal.
·
Faktor-faktor
social
Sistem peranan yang ditetapkan dalam suatu
masyarakat, struktur kelompok dan organisasi, karakteristik populasi, adalah
faktor-faktor sosial yang menata perilaku manusia.
·
Lingkungan
Psikososial
Lingkungan dalam persepsi kita lazim disebut sebagai
iklim (climate). Pola-pola kebudayaan
yang dominan atau ethos, ideology dan nilai dalam persepsi anggota masyarakat,
mempengaruhi seluruh perilaku sosial.
·
Stimuli
yang Mendorong dan Memperteguh Perilaku
Ada situasi yang memberikan rentangan kelayakan
perilaku (behavioral appropriateness). Situasi
yang permisif memungkinkan orang melakukan banyak hal tanpa harus merasa malu.
Sebaliknya, situasi restriktif menghambat orang untuk berperilaku sekehendak
hatinya.
Perilaku manusia memang merupakan hasil interaksi
yang menarik antara keunikan individual dengan keumuman situasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar