Selasa, 16 Oktober 2012

Karakteristik Manusia Komunikan


2.1 Konsepsi Psikologi tentang Manusia
            Banyak teori komunikasi di latarbelakangi konsepsi psikologi tentang manusia, Teori-teori persuasi sudah lama menggunakan konsepsi psikoanalisis yang menggambarkan manusia sebagai makhluk yang digerakan oleh keinginan-keinginan terpendam (Homo Volens). Teori “Jarum Hipodermik” (yang menyatakan media massa sangat berpengaruh dilandasi konsepsi behaviorisme yang memandang manusia sebagai makhluk yang digerakan semaunya oleh lingkungan (Homo Mechanicus). Teori pengolahan informasi jelas dibentuk oleh konsepsi psikologi kognitif yang melihat manusia sebagai mahkluk yang aktif mengorganisasikan dan mengolah stimuli yang diterimanya (Homo Sapiens). Teori-teori komunikasi interpersonal banyak dipengaruhi konsepsi psikologi humanistis yang menggambarkan manusia sebagai pelaku aktif dalam merumuskan strategi transaksional dengan lingkungannya (Homo Ludens)
.
            Walaupun psikologi telah banyak melahirkan teori-teori tentang manusia, tetapi empat pendekatan yang dicontohkan di atas adalah yang paling dominan : psikoanalisis, behaviorisme, psikologi kognitif, dan psikologi humanistis. Setiap pendekatan ini memandang manusia dengan cara berlainan. Sekali waktu ia menjadi mahkluk yang secara membuta menuruti kemauannya, pada waktu yang lain ia menjadi mahkluk yang berpikir logis. Pada satu saat ia menyerah bulat-bulat pada proses pelaziman (conditioning) yang diterimanya dari lingkungan, pada saat lain ia berusaha mewarnai lingkungannya dengan nilai-nilai kemanusiaan yang dimilikinya.

Konsepsi Manusia dalam Psikoanalisis
Sigmund Freud, pendiri psikoanalisis adalah orang yang pertama berusaha merumuskan psikologi manusia. Ia memfokuskan perhatiannya kepada totalitas kepribadian manusia, bukan pada bagian-bagiannya yang terpisah (Asrch, 1959:17).
            Menurut Freud, perilaku manusia merupakan hasil interaksi tiga sub-sistem dalam kepribadian manusia Id, Ego, Superego. Id adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis manusia – pusat instink (hawa nafsu – dalam kamus agama). Ada dua instink dominan : (1) Libido – instink reproduktif yang menyediakan energi dasar untuk kegiatan-kegiatan manusia yang konstruktif; (2) Thanatos – instink destruktif dan agresif.


2.2 Faktor-faktor Personal yang Mempengaruhi Perilaku Manusia
Dewasa ini ada dua macam psikologi social. Yang pertama adalah Psikologi sosial (dengan huruf P besar) dan yang kedua psikologi Sosial (dengan huruf S besar). Ini menunjukkan dua pendekatan dalam psikologi sosial: ada yang menekankan faktor-faktor psikologis dan ada yang menekankan factor-faktor social; atau dengan istilah lain: factor-faktor yang timbul dari dalam diri individu (factor personal), dan faktor-faktor berpengaruh yang datang dari luar diri individu (faktor environmental).
McDougall menekankan pentingnya factor-faktor personal dalam menentukan interaksi social dan masyarakat. Ross menegaskan utamanya factor situasional dan social dalam membentuk perilaku individu. Menurut McDougall, factor-faktor personallah – ia menjabarkannya dalam puluhan instink – yang menentukan perilaku manusia. Mengapa manusia berperang? Karena ia memiliki instink berkelahi. Mengapa orang berkelompok dan membentuk organisasi? Karena ia memiliki instink berkelompok (gregarious propensity). Lalu, mengapa manusia sanggup membangun bangunan megah bahkan peradapan? Karena ia memiliki instink membangun (constructive propensity).
Populernya Behaviorime memporak-pondakan dalil-dalil McDougall. Orang melihat factor situasilah yang penting. Suara Ross menjadi nyaring, terutama di negeri Paman Sam, kelahiran Behaviorisme. Ternyata, situasi atau lingkunganlah yang menentukan perilaku kita.
Istilah Edward E. Sampson (1976) – antara perspektif yang berpusat pada persona (person – centered perspective) dengan perspektif yang berpusat pada situasi (situation-centered perspective). Seperti juga konsepsi tentang manusia, yang benar tampaknya interaksi di antara keduanya.
Perspektif yang berpusat pada persona mempertanyakan faktor-faktor internal apakah, baik berupa sikap, instink, motif, kepribadian, sistem konigtif yang menjelaskan perilaku manusia. Secara garis besar ada dua faktor; faktor biologis dan faktor sosiopsikologis.
·         Faktor Biologis
Manusia adalah mahkluk biologis yang tidak berbeda dengan hewan yang lain. Faktor biologis terlibat dalam seluruh kegiatan manusia, bahkan berpadu dengan factor-faktor sosiopsikologis. Bahwa warisan biologis manusia menentukan perilakunya, dapat diawali sampai struktur DNA yang menyimpan seluruh memori warisan biologis yang diterimanya dari kedua orang tuanya. Begitu besarnya pengaruh warisan biologis ini sampai muncul aliran baru, yang memandang segala kegiatan manusia, termasuk agama, kebudayaan, moral, berasal dari struktur biologinya.

·         Faktor-faktor Sosiopsikologis
Karena manusia makhluk social, dari proses social ia memperoleh beberapa karakteristik yang mempengaruhi perilakunya. Kita dapat mengklasifikasikanya ke dalam tiga komponen komponen afektif, komponen kognitif, dan komponen konatif. Komponen yang pertama, yang merupakan aspek emosional dari factor sosiopsikologis, didahulukan karena erat kaitannya dengan pembicaraan sebelumnya. Komponen kognitif adalah aspek intelektual, yang berkaitan dengan apa yang diketahui manusia. Komponen konatif adalah aspek volisional, yang berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak. Komponen afektif yang terdiri dari motif sosiogenis, sikap dan emosi.

·         Motif Sosiogenis
Motif sosiogenis, sering juga disebut motif sekunder sebagai lawan motif primer (motif biologis), sebetulnya bukan motif “anak bawang”. Peranannya dalam membentuk perilaku sosial bahkan sangat menentukan. Berbagai klasifikasi motif sosiogenis:
W.I Thomas dan Florian Znaniecki:
1.      Keinginan memperoleh pengalaman baru;
2.      Keinginan untuk mendapat respons;
3.      Keinginan akan pengakuan;
4.      Keinginan akan rasa aman.
David McClelland:
1.      Kebutuhan berprestasi (need for achievement);
2.      Kebutuhan akan kasih sayang (need for affiliation);
3.      Kebutuhan berkuasa (need for power).
Abraham Maslow:
1.      Kebutuhan akan rasa aman (safety needs);
2.      Kebutuhan akan keterikatan dan cinta (belongingness and love needs);
3.      Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs);
4.      Kebutuhan untuk pemenuhan diri (self-actualization).
Melvin H.Marx:
1.      Kebutuhan organismis:
v  Motif ingin tahu (curiosity),
v  Motif kompetensi (competence),
v  Motif prestasi (achievement);
2.      Motif-morif sosial:
v  Motif kasih saying (affiliation),
v  Motif kekuasaan (power),
v  Motif kebebasan (independence).

·         Sikap
Sikap adalah konsep yang paling penting dalam psikologi social dan yang paling banyak didefinisikan. Ada yang menganggap sikap hanyalah sejenis motif sosiogenis yang diperoleh melalui proses belajar (Sherif dan Sherif, 1956:489). Ada pula yang melihat sikap sebagai kesiapan saraf (neural settings) sebelum memberikan respons (Allport, 1924). Dari berbagai definisi kita dapat menyimpulkan beberapa hal. Pertama, sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir, dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi atau nilai. Sikap bukan perilaku, tetapi merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara-cara tertentu terhadap objek sikap.
Kedua, sikap mempunyai daya pendorong atau motivasi. Sikap bukan sekadar rekaman masa lalu, tetapi juga menentukan apakah orang harus pro atau kontra terhadap sesuatu; menentukan apa yang disukai, diharapkan, dan diinginkan; mengesampingkan apa yang tidak diinginkan, apa yang harus dihindari (Sherif dan Sherif, 1956:489).
Ketiga, sikap relatif lebih menetap. Berbagai studi menunjukkan bahwa sikap politik kelompok cenderung dipertahankan dan jarang mengalami perubahan.
Keempat, sikap mengandung aspek evaluative: artinya mengandung nilai menyenangkan atau tidak menyenangkan, sehingga Bem memberikan definisi sederhana: “Attitudes are likes and dislikes” (1970:14).
Kelima, sikap timbul dari pengalaman; tidak dibawa sejak lahir, tetapi merupakan hasil belajar. Karena itu sikap dapat diperteguh atau diubah.

·         Emosi
Emosi menunjukkan kegoncangan organism yang disertai oleh gejala-gejala kesadaran, keperilakuan, dan proses fisiologis. Emosi tidak selalu jelek. Emosi memberikan bumbu kepada kehidupan; tanpa emosi hidup ini kering dan gersang. Paling tidak, ada empat fungsi emosi (Coleman dan Hammen, 1974:462). Pertama, emosi adalah pembangkit energy (energizer). Kedua, emosi adalah pembawa informasi (messenger). Ketiga, emosi bukan saja pembawa informasi dalam komunikasi intrapersonal, tetapi juga pembawa pesan dalam komunikasi interpersonal. Keempat, emosi juga merupakan sumber informasi tentang keberhasilan kita.
          Emosi berbeda-beda dalam hal intensitas dan lamanya. Ada emosi yang ringan, berat, dan desintegratif. Emosi ringan meningkatkan perhatian kita kepada situasi yang dihadapi, disertai dengan perasaan tegang sedikit. Emosi kuat disertai rangsangan fisiologis yang kuat. Dalam fisiologi, gejala ini lazim disebut GAS – general adaptation syndrome. Emosi yang desintegratif tentu saja terjadi dalam intesitas emosi yang memuncak.
          Dari segi lamanya, ada emosi yang berlangsung singkat dan ada yang berlangsung lama. Mood adalah emosi yang menetap selama berjam-jam atau beberapa hari. Mood mempengaruhi persepsi kita atau penafsiran kita pada stimuli yang merangsang alat indera kita. Mood kita sebut sebagai suasana emosional. Bila suasana emosional ini menjadi kronis dan menjadi bagian dari struktur kepribadian, kita menyebutnya tempramen. Dalam hubungan ini kita bisa menyatakan temperamennya penyedih, pemarah, atau ceria.
          Disini cukuplah dikatakan bahwa dalam psikologi komunikasi, emosi memegang peranan yang penting. Emosi terlibat dalam komunikasi sejak proses penyandian, penyampaian pesan, bahkan sampai pada efek dalam diri komunikan.

·         Kepercayaan
Kepercayaan adalah komponen kognitif dari factor sosiopsikologis. Kepercayaan disini tidak ada hubungannya dengan hal-hal yang gaib, tetapi hanyalah “kenyakinan bahwa sesuatu itu benar atau salah atas dasar bukti, sugesti otoritas, pengalaman, atau intuisi” (Hohler, et al., 1978:48). Jadi kepercayaan dapat bersifat rasional atau irrasional. Kepercayaan memberikan perspektif pada manusia dalam mempersepsi kenyataan, memberikan dasar bagi pengambilan keputusan dan menentukan sikap terhadap objek sikap.
          Menurut Solomon E. Asch (1959:565 – 567), kepercayaan dibentuk oleh pengetahuan, kebutuhan dan kepentingan. Pengetahuan berhubungan dengan jumlah informasi yang dimiliki seseorang.

·         Kebiasaan
Kebiasaan adalah aspek perilaku manusia yang menetap, berlangsung secara otomatis tidak direncanakan. Kebiasaan mungkin merupakan hasil pelaziman yang berlangsung pada waktu yang lama atau sebagai reaksi khas yang diulangi seseorang berkali-kali. Setiap orang mempunyai kebiasaan yang berlainan dalam menanggapi stimulus tertentu. Kebiasaan inilah yang memberikan pola perilaku yang dapat diramalkan.

·         Kemauan.
Kemauanlah yang membuat orang besar atau kecil. Kemauan erat kaitannya dengan tindakan, bahkan ada yang mendefinisikan kemauan sebagai tindakan yang merupakan usaha seseorang untuk mencapai tujuan. Menurut Richard Dewey dan W.J Humber, kemauan merupakan: (1) hasil keinginan untuk mencapai tujuan tertentu yang begitu kuat sehingga mendorong orang untuk mengorbankan nilai-nilai yang lain, yang tidak sesuai dengan pencapaian tujuan; (2) berdasarkan pengetahuan tentang, cara-cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan, (3) dipengaruhi oleh kecerdasan dan energy yang sebenarnya dengan satu cara yang tepat untuk mencapai tujuan.

2.3 Faktor-faktor Situasional yang Mempengaruhi Perilaku Manusia
Reaksi agresif diungkapkan berlainan pada situasi yang berlainan sehingga Delgado menyimpulkan bahwa respons otak sangat dipengaruhi oleh “Setting” atau suasana yang melingkupi organism (Packard, 1978:45).
·         Faktor Ekologis
Kaum determinisme lingkungan sering menyatakan bahwa keadaan alam mempengaruhi gaya hidup dan perilaku.

·         Faktor Rancangan dan Arsitektural
Osmond (1957) dan Sommer (1969) membedakan antara desain bangunan yang mendorong orang untuk berinteraksi (sociopetal) dan rancangan bangunan yang menyebabkan orang menghindari interaksi (sociofugal). Pengaturan ruangan juga telah terbukti mempengaruhi pola-pola perilaku yang terjadi di tempat itu.

·         Faktor Temporal
Satu pesan komunikasi yang disampaikan pada pagi hari akan memberikan makana yang lain bila disampaikan pada tengah malam. Jadi, yang mempengaruhi manusia bukan saja di mana mereka berada tetapi juga bilamana mereka berada.

·         Suasana Perilaku (Behavior Settings)
Dalam suatu kampanye di lapangan terbuka, komunikator akan menyusun dan menyampaikan pesan dengan cara yang berbeda daripada ketika ia berbicara di hadapan kelompok kecil di ruang rapat partainya.

·         Teknologi
Revolusi teknologi sering disusul dengan revolusi dalam perilaku social. Alvin Tofler melukiskan tiga gelombang peradaban manusia yang terjadi sebagai akibat perubahan teknologi. Lingkungan teknologis (technosphere) yang meliputi system energy, sistem produksi, dan sistem distribusi, membentuk serangkaian perilaku social yang sesuai dengannya (sociosphere). Bersamaan dengan itu tumbuhlah pola-pola penyebaran informasi (infosphere) yang mempengaruhi suasana kejiwaan (psychosphere) setiap anggota masyarakat. Dalam ilmu komunikasi, Marshall McLuhan (1964) menunjukkan bahwa bentuk teknologi komunikasi lebih penting daripada isi media komunikasi. Misalnya, kelahiran mesin cetak mengubah masyarakat tribal menjadi masyarakat yang berpikir logis dan individualis; sedangkan kelahiran TV membawa manusia kembalu pada kehidupan neo-tribal.

·         Faktor-faktor social
Sistem peranan yang ditetapkan dalam suatu masyarakat, struktur kelompok dan organisasi, karakteristik populasi, adalah faktor-faktor sosial yang menata perilaku manusia.

·         Lingkungan Psikososial
Lingkungan dalam persepsi kita lazim disebut sebagai iklim (climate). Pola-pola kebudayaan yang dominan atau ethos, ideology dan nilai dalam persepsi anggota masyarakat, mempengaruhi seluruh perilaku sosial.

·         Stimuli yang Mendorong dan Memperteguh Perilaku
Ada situasi yang memberikan rentangan kelayakan perilaku (behavioral appropriateness). Situasi yang permisif memungkinkan orang melakukan banyak hal tanpa harus merasa malu. Sebaliknya, situasi restriktif menghambat orang untuk berperilaku sekehendak hatinya.
Perilaku manusia memang merupakan hasil interaksi yang menarik antara keunikan individual dengan keumuman situasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar