Tampilkan postingan dengan label Semua tentang Jakarta:). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Semua tentang Jakarta:). Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Agustus 2012

Taman Marta Tiahahu


Taman Marta Tiahahu merupakan salah satu taman terluas di Jakarta Selatan, denagn luas 20.960 m2. Taman ini terletak disekitar komplek atau pusat perbelanjaan dan terminal bus Blok M.Air mancur, tugu, termasuk kolam besar merupakan elemen penting yang memperindah lingkungan ini.

Sumber: Jakarta.go.id      

Taman Medan Merdeka


Istana Gubernur disebelah utara Taman Monas yang kemudian disebut sebagai Istana Negara. Nama Monumen Nasional diberikan karena pada tahun 1961 Presiden RI yang pertama membangun sebuah Monumen berbentuk obor raksasa, yang mencerminkan kebesaran bangsa dan untuk membangkitkan semangat perjuangan Bangsa dimasa yang akan datang.
Kemudian pada tanggal 10 Januari 1993 Presiden Soeharto mencanangkan dimulainya peningkatan dan pengembangan Taman Monas sebagai taman rekreasi dan monumental yang megah. Areal taman telah menjadi jejak sejarah yang panjang, mempunyai pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan Kota Jakarta, serta catatan berbagai peristiwa yang terjadi selama beberapa ratus tahun.

Taman Langsat


Pada awalnya Taman Langsat merupakan tempat penampungan bibit tanaman, namun pada saat ini telah ditingkatkan fungsinya menjadi area penyuluhan pertamanan dan beberapa fasilitas yang dapat dipergunakan untuk umum. Fasilitas yang disediakan antara lain :
1.      Tempat kursus atau seminar
2.      Jogging Track
3.      Lapangan tenis
4.      Area koleksi tanaman, sebagai fasilitas pengenalan jenis tanaman.
5.      Tempat pameran Flora dan fauna di alam terbuka.

Sumber: Jakarta.go.id

Taman Situ Lembang


Taman Situ Lembang terletak di pusat Jakarta dan luas lahannya 11.150 m2. Taman ini merupakan salah satu taman tertua di Jakarta dan memiliki danau kecil yang airnya berasal dari sumber air alam.
Arena pemancingan, olahraga lari santai adalah salah satu sarana rekreasi yang disukai, telah dikembangkan ditaman ini. Ditaman ini juga terdapat arena permainan anak.

Sumber: Jakarta.go.id

Taman Suropati


Beberapa seniman negara ASEAN menyumbangkan hasil karyanya dan memperagakan di Taman Suropati. Taman ini mempunyai nama tambahan "Taman persahabatan seniman ASEAN".
Adanya berbagai ornamen dan sarana yang terdapat di Taman Suropati, menyebabkan taman ini menjadi salah satu taman dengan kualitas terbaik di Kota Jakarta.

Sumber: Jakarta.go.id

Monumen Nasional (Monas)


Arsitek Utama  : Ir. Soekarno
Arsitek Pelaksana : Soedarsono
Penasehat Konstruksi : Prof. Ir. Rooseno
Monumen Nasional mulai dibangun 17 Agustus 1961 hingga 1968, dibuka untuk umum 1972.
Ruangan-Ruangan di Monumen Nasional :
1.      Terowongan, sebagai pintu gerbang masuk Monumen Nasional
2.      Ruang Museum Sejarah Monumen Nasional, menampilkan 51 adegan diorama sejarah, terletak 3 meter dibawah permukaan halaman dengan ketinggian 8 meter dan luas 80 x 80 meter
3.   Ruang Kemerdekaan, menampilkan 4 atribut kemerdekaan, yaitu : Teks Proklamasi, Burung Garuda, Kepulauan Indonesia, dan Pintu Gapura yang berisi suara pembacaan teks Proklamasi oleh Ir. Soekarno
4.  Pelataran Cawan, terletak pada ketinggian 115 meter dari permukaan halaman Monumen Nasional dengan luas     45 x 45 meter
5.      Lidah Api Kemerdekaan, terbuat dari perunggu seberat 14,5 ton semula dilapisi emas seberat 32 kg dan pada tahun 1995 saat Republika Indonesia berusia 50 tahun, ada penambahan emas seberat 18 kg, sehingga berat emas pada Lidah Api Kemerdekaan menjadi 50 kg

Sumber: Jakarta.go.id



Taman Menteng


SEJARAH LAPANGAN PERSIJA, MENTENG

Lapangan Sepak Bola Persija – Menteng telah ada sejak tahun 1920an, bernama Voetbalbond Indiesche Omstreken atau V.I.O.S Veld, berlokasi di Jl. HOS. Cokroaminoto 87 Menteng, Jakarta Pusat.
Sejak tahun 1921, lahan seluas 3,4 hektar tersebut sudah digunakan sebagai tempat berolahraga orang-orang Belanda. Tahun 1961 Persija dirasa perlu memiliki sebuah lapangan yang cukup repersentatif. Surat Keputusan Gubernur Jakarta Tahun 1975 menetapkan stadion ini sebagai salah satu kawasan cagar budaya yang harus dilindungi. Pada tahun yang sama lapangan tersebut berubah nama menjadi Stadion Persija atau akrab disebut Stadion Menteng.

Taman Benteng


Sekitar tahun 1980-an taman ini sempat dipergunakan sebagai terminal bus untuk rute dalam dan luar kota. Pada tahun 1993 fungsi Lapangan Banteng dikembalikan lagi sebagai ruang terbuka hijau kota. Taman kota yang luasnya kurang lebih 4,5 hektar dan dapat dipergunakan untuk berbagai macam kegiatan, antara lain :
·         Tempat rekreasi dan bersantai bagi warga kota
·     Tempat pameran untuk swasta, instansi Pemerintah maupun perorangan, misalnya pameran flora dan fauna, lukisan atau pameran lain yang dapat dilangsungkan di taman.
·         Tempat olah raga, jalan kaki, senam kesegaran jasmani, dan latihan seni bela diri.
·         Tempat pengenalan berbagai jenis tanaman rempah-rempah.
·         Tempat untuk menyelenggarakan lomba satwa, temu wicara, sarasehan, dan lain-lain.

Sumber: Jakarta.go.id



Sejarah Jakarta



Jakarta bermula dari sebuah bandar kecil di muara Sungai Ciliwung sekitar 500 tahun silam. Selama berabad-abad kemudian kota bandar ini berkembang menjadi pusat perdagangan internasional yang ramai. Pengetahuan awal mengenai Jakarta terkumpul sedikit melalui berbagai prasasti yang ditemukan di kawasan bandar tersebut. Keterangan mengenai kota Jakarta sampai dengan awal kedatangan para penjelajah Eropa dapat dikatakan sangat sedikit.

Laporan para penulis Eropa abad ke-16 menyebutkan sebuah kota bernama Kalapa, yang tampaknya menjadi bandar utama bagi sebuah kerajaan Hindu bernama Sunda, beribukota Pajajaran, terletak sekitar 40 kilometer di pedalaman, dekat dengan kota Bogor sekarang. Bangsa Portugis merupakan rombongan besar orang-orang Eropa pertama yang datang ke bandar Kalapa. Kota ini kemudian diserang oleh seorang muda usia, bernama Fatahillah, dari sebuah kerajaan yang berdekatan dengan Kalapa. Fatahillah mengubah nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1527. Tanggal inilah yang kini diperingati sebagai hari lahir kota Jakarta. Orang-orang Belanda datang pada akhir abad ke-16 dan kemudian menguasai Jayakarta.